Ketimpangan Gender Turun, NTB Mendekati Era Penduduk Menua
Mataram, 5 Mei 2026 – Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat kemajuan signifikan dalam kualitas pembangunan manusia. Ketimpangan gender menurun, sementara pada saat yang sama NTB mulai memasuki fase transisi demografi menuju ageing population atau masyarakat menua.
Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, Dr. Drs. Wahyudin, MM, dalam rilis resmi statistik terbaru. Menurutnya, capaian ini menunjukkan adanya perbaikan struktur sosial, namun juga menjadi sinyal awal tantangan baru yang harus diantisipasi secara serius.
“Penurunan ketimpangan gender merupakan indikator positif, tetapi di sisi lain kita juga harus mulai bersiap menghadapi perubahan struktur penduduk yang mengarah pada peningkatan jumlah lansia,” jelas Wahyudin.
Berdasarkan data BPS, Indeks Ketimpangan Gender (IKG) NTB tahun 2025 turun menjadi 0,515, atau membaik sebesar 0,015 poin dibanding tahun sebelumnya. Penurunan ini didorong oleh perbaikan pada dimensi kesehatan reproduksi dan pemberdayaan perempuan.
Cakupan persalinan di fasilitas kesehatan tercatat mencapai 83,82 persen, sementara persalinan yang ditangani tenaga kesehatan mencapai 99,15 persen. Selain itu, angka pernikahan usia anak juga berhasil ditekan, dari 14,96 persen pada 2024 menjadi 11,31 persen pada 2025.
Dari sisi kebijakan, penguatan program responsif gender juga berkontribusi terhadap penurunan ketimpangan, dengan alokasi anggaran mencapai 8,53 persen dari realisasi APBD untuk mendukung akses perempuan di sektor pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi.
Namun demikian, Wahyudin menegaskan bahwa NTB kini mulai menghadapi dinamika demografi yang berbeda. Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, NTB hampir memasuki fase ageing population, dengan proporsi penduduk lanjut usia mencapai 9,72 persen.
“Ini adalah fase transisi yang penting. Jika tidak dipersiapkan dengan baik, perubahan struktur penduduk dapat menjadi tantangan bagi sistem sosial dan ekonomi,” ujarnya.
Selain itu, laju pertumbuhan penduduk NTB tercatat 1,58 persen per tahun, dengan rasio ketergantungan sebesar 48,77, yang menunjukkan meningkatnya beban penduduk usia produktif dalam menopang kelompok usia nonproduktif.
Indikator kualitas hidup juga menunjukkan tren membaik. Angka Kematian Bayi (IMR) turun menjadi 21,03, didukung peningkatan layanan kesehatan dan cakupan imunisasi. Sementara itu, Angka Kelahiran Total (TFR) menurun menjadi 2,38, mencerminkan perubahan pola pikir masyarakat serta meningkatnya usia kawin pertama perempuan.
Di sisi lain, mobilitas penduduk juga menunjukkan dinamika positif. Sebagian besar kabupaten/kota di NTB menjadi daerah tujuan migrasi, menandakan meningkatnya aktivitas ekonomi dan daya tarik wilayah, meskipun Kota Mataram tercatat mengalami migrasi neto negatif.
Secara keseluruhan, Wahyudin menegaskan bahwa NTB saat ini berada dalam fase penting transformasi sosial dan demografi. Penurunan ketimpangan gender menjadi fondasi kemajuan, namun perubahan struktur penduduk menuntut kebijakan yang lebih adaptif dan berorientasi jangka panjang.
“Ke depan, tantangannya bukan hanya menjaga tren positif ini, tetapi memastikan bahwa perubahan demografi dapat dikelola menjadi peluang pembangunan yang berkelanjutan,” pungkasnya.







