Petani Menguat, Desa Bergerak: Wajah Baru Ekonomi NTB di Tengah Tantangan Kemiskinan
Mataram, 20 Februari 2026 - Nusa Tenggara Barat (NTB) sedang berada di persimpangan penting transformasi ekonomi desa. Di satu sisi, struktur ekonomi masih kokoh bertumpu pada sektor pertanian. Di sisi lain, industri mikro dan konektivitas digital mulai membuka jalan baru menuju kesejahteraan yang lebih merata. Data terbaru menunjukkan, dari 1.180 desa/kelurahan di Nusa Tenggara Barat, sebanyak 943 desa atau 79,92 persen masih menggantungkan penghasilan utama pada sektor pertanian. Angka ini menegaskan denyut ekonomi NTB tetap berakar kuat pada sektor agraris, terutama subsektor tanaman pangan yang menjangkau 798 desa. Namun desa-desa di NTB tak lagi berjalan dalam pola lama semata.
Dibalik dominasi pertanian, geliat ekonomi baru mulai terlihat. Sebanyak 1.155 desa telah memiliki Industri Mikro dan Kecil (IMK) dan 195 desa berkembang menjadi sentra industri. Fenomena ini paling terasa di Kabupaten Lombok Timur, yang mencatat konsentrasi sentra industri tertinggi di NTB. Industri kecil berbasis lokal ini menjadi jembatan antara produksi primer dan nilai tambah. Hasil pertanian tidak lagi hanya dijual mentah, tetapi mulai diolah, dikemas, dan dipasarkan lebih luas. Desa perlahan bergerak dari sekadar produsen bahan baku menjadi pelaku ekonomi kreatif berbasis komunitas.
Transformasi ini semakin diperkuat oleh akses digital yang hampir merata. Seluruh desa/kelurahan di NTB telah terjangkau sinyal internet, dengan 1.139 desa menikmati jaringan 4G/5G. Konektivitas ini menjadi fondasi penting digitalisasi UMKM, pemasaran hasil tani hingga akses informasi harga pasar. Pertanian yang kuat, IMK yang tumbuh, dan internet yang menjangkau desa. Kombinasi ini menjadi modal besar bagi percepatan pemerataan ekonomi.
Per Maret 2025, jumlah penduduk miskin di NTB tercatat 654,57 ribu orang atau 11,78 persen. Angka ini turun 4,03 ribu orang dibanding September 2024, dengan penurunan 0,13 poin persen. Garis kemiskinan NTB naik menjadi Rp.556.846 per kapita per bulan, meningkat 3,05 persen. Biaya untuk memenuhi kebutuhan dasar semakin tinggi. Struktur garis kemiskinan menunjukkan 75,86 persen disumbang oleh kebutuhan makanan. Komoditas seperti Beras, Telur Ayam Ras, Daging Ayam Ras, Cabai Rawit, hingga Rokok Kretek dan Rokok Filter menjadi penyumbang utama.
*Kabar Baik dari Petani, NTP Menguat*
Di tengah tantangan tersebut, kabar menggembirakan datang dari sektor pertanian. Nilai Tukar Petani (NTP) NTB pada Desember 2025 tercatat 134,14, naik 4,50 persen dibanding bulan sebelumnya. Karena NTP di atas 100, berarti petani mengalami surplus, angka ini menunjukkan daya beli dan margin usaha petani membaik secara signifikan.
Kenaikan terbesar datang dari subsektor Hortikultura dengan NTP mencapai 255,85 menjadi motor utama peningkatan kesejahteraan petani. Disusul tanaman pangan (125,53), peternakan (112,94), perikanan (106,82), dan perkebunan rakyat (102,59). Seluruh subsektor berada dalam posisi surplus. Artinya, di tingkat produsen, pendapatan petani relatif lebih kuat dibanding biaya yang dikeluarkan. Jika tren ini konsisten dan diiringi penguatan hilirisasi serta stabilitas harga, sektor pertanian dapat menjadi lokomotif penurunan kemiskinan yang lebih cepat pada masa mendatang.
*Momentum Transformasi Desa*
Gambaran besar ekonomi NTB, menunjukkan dinamika yang menarik.
Desa yang agraris, tetapi mulai terdorong ke arah diversifikasi.
Kemiskinan menurun, namun dipengaruhi harga pangan.
Kesejahteraan petani membaik, terutama pada subsektor Hortikultura.
Digitalisasi membuka peluang percepatan nilai tambah.
Ke depan, penguatan hilirisasi pertanian dan agroindustri desa menjadi kunci. Produk Hortikultura unggulan perlu didorong masuk ke rantai pasok modern, didukung cold storage, pengemasan, hingga pemasaran digital. Stabilisasi harga pangan juga harus menjadi strategi utama pengendalian kemiskinan. Adapun di NTB, harga Cabai dan Beras bisa menentukan nasib ribuan keluarga.
NTB sedang bergerak. Ada pula Program Desa Berdaya yang menyasar pengentasan kemiskinan ekstrem secara gradual pada 106 desa di NTB. Dari desa yang bertumpu pada sawah dan ladang, menuju desa yang terhubung, produktif, dan mandiri. Jika momentum ini terus terjaga, transformasi ekonomi desa bukan hanya wacana. Melainkan jalan nyata menuju kesejahteraan yang lebih merata. (edo/dyd/kominfotikntb)
Terima kasih atas masukkan Anda.







